oleh

Miniatur Istiqlal yang di Bangun 1958/1962

Kabupaten Bandung, Saktimedianews.id – Bagi yang pernah melewati  Nagreg, kiranya tidak akan asing dengan Masjid Uswantun Hasanah. Masjid ini tepat terletak sebelum tanjakan Nagreg (sebelum ada Lingkar Nagreg). Tepatnya di Kampung Paslon, Desa Ciherang, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.

Masjid yang setelah ada Lingkar Nagreg menjadi terletak di turunan Nagreg ini, biasa menjadi tempat peristirahatan para musafir yang sedang dalam perjalanan. Baik untuk sekedar melepas lelah dalam perjalanan sambil menikmati jajanan, maupun melaksanakan ibadah shalat.
juga ada tempat perbelanjaan hingga kuliner yang menjadi ciri khas dari Kabupaten Bandung.

Ternyata Kecamatan Nagreg juga memiliki sebuah bangunan yang mirip dengan masjid Istiqlal. Masjid tersebut bernama masjid Uswatun Hasana.

Lokasi masjid tersebut berada di Kampung Paslon, Desa Ciherang, Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung.

Masjid Uswatun Hasanah disebut juga dengan masjid Istiqlal mini karena bentuk kubahnya yang berjumlah tiga sama persis dengan bentuk kubah yang dimiliki oleh masjid Istiqlal di Jakarta.

Selain itu bahan semen yang digunakan sama dengan bahan semen yang dipakai dalam pembangunan masjid Istiqlal Jakarta. Jenis semen yang digunakan adalah Pazzolan Trass ini juga digunakan untuk membangun mesjig Istiqlal.

Dipakai untun membikin dam dam di Belanda dan juga untuk bangunan di Jerman. Bisa tahan kuat sama air. Namun saat ini bentuk kubah masjid Uswatun Hasanah telah dicat menggunakan warna keemasan.

Awal mulanya masjid ini didirikan oleh Dr.H. Ili Sasmita Atmadja. Beliau merupakan seorang warga dari Nagreg. Proses pembangunannya dimulai pada tanggal 17 Agustus 1958 diresmikan pada tahun 1962 dan Dr. H. Ili Sasmita Atmadja sendiri sempat menjadi bagian dari panitia pembangunan masjid Istiqlal yang berada di Jakarta.

Beliau juga ternyata memiliki hubungan yang cukup dekat dengan mantan Presiden Pertama Indonesia, yaitu Presiden Soekarno.

Menurut H. Sabilah Rosyid yang merupakan Ketua DKM Uswatun Hasanah menyebutkan bahwa : “Gaya dari bangunan masjid Uswatun Hasanah memang sangat dipengaruhi oleh desain masjid Istiqlal yang berada di Jakarta,” ungkapnya.

“Tak hanya itu juga, spesifikasinya juga turut dipengaruhi dari masjid asal Jakarta tersebut termasuk bahan bangunan semen yang bersal dari Jerman sehingga bangunannya terlihat kokoh,” tambahnya.

“Hingga saat ini, bangunan masjid tersebut masih berdiri dengan kokohnya meskipun usianya sudah cukup lama. Pada dinding masjid Uswatun Hasanah pun tidak dapat dipaku menggunakan paku beton melainkan hanya bisa digunakan dengan mesin bor,” imbuhnya.

Hal tersebut memiliki alasan lain dimana ternyata Mantan Presiden Soekarno sendiri meminta kepada Dr. H. Ili Sasmita Atmadja agar dapat membangun sebuah masjid yang kuat dan kokoh hingga mencapai seribu tahun.

Akhirnya dapat diberi gelar Doctor Honoris Causa. Dr. H. Ili Sasmita Atmadja melakukan tugasnya kemudian membangun masjid tersebut dan masjid Uswatun Hasanah lah wujud dari pembangunannya.

“Berdiri kokoh dekat dengan jalan raya sehingga banyak kendaraan besar yang lewat dan tak jarang sering bergetar, dinding masjid Uswatun Hasanah tidak pernah retak,” tukasnya.

“Selain dindingnya yang terus berdiri kokoh, bagian menara serta kubahnya pun masih berdiri tegak dan tidak terdapat kerusakan sedikitpun. Dilihat dari segi bangunannya, masjid ini tidak dapat menampung ribuan jamaah pada bagian dalam masjid,” tegasnya.

“Hanya sekitar 84 jamaah yang dapat melaksanakan ibadah shalat dan pada bagian halaman masjid tersebut cukup luas kurang lebih satu hektar sehingga dapat menampung jumlah jamaah kurang lebih 400 jemaah,” pungkas Ketua DKM. H. Sabilah Rosyid.

Jurnalis : Jajang Muhtar/Rizzal Aditya Kab. Bandung .

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed