oleh

Diduga Perizinan Tidak Ada dan Pengabaian K3 Atas Jatuhnya Pekerja Pada Proyek Renovasi Pembangunan Masjid Al-Bayyinah PERSIS

-HUKUM-605 views

KBB, Saktimedianews.id
Satu orang pekerja renovasi pembangunan Masjid Al-Bayyinah Pimpinan Cabang (PC) – Persatuan Islam (PERSIS) Ngamprah Di Jalan Bunisari Kulon RT 05 RW 06 Desa Gadobangkong Kecamatan Ngamprah Kabupaten Bandung Barat terjatuh diketinggian kurang lebih 4 meter, Kamis (24/9/2020) Siang.

Informasi yang berhasil dihimpun, peristiwa kecelakaan kerja terjadi kurang lebih sekitar pukul 09.30 WIB. Saat itu Korban berinisial ST (50) bersama beberapa rekannya tengah melakukan pengerjaan renovasi pembangunan masjid.

Lantaran pengerjaan terpusat pada bagian lantai atas masjid, beberapa pekerja pun melakukan aktifitas dilantai atas bangunan untuk menggeser bondek yang akan menjadi atap masjid tersebut.

Lokasi Jatuhnya Korban (ST) 

Rekan kerja Korban ST, Sutiyadi ketika dikonfirmasi oleh wartawan Saktimedianews.id, dia mengatakan,” Pada saat Korban ST mengangkat untuk menggeser bondek tersebut, Korban ST sepertinya tidak mengetahui bahwa lantai pada bagian atas masjid masih ada yang berlubang, dia menginjak pada bagian lubang dan langsung terjatuh,” jelasannya.

Disinggung oleh wartawan, terkait tidak ada Kesehatan, Keamanan dan Keselamatan (K3) dari tenaga kerja, Sutiyadi mengatakan,” Memakai pelindung diri kalau posisi seperti inikan nggak bisa. Yang saya tau, yang memakai Alat Pelindung Diri (APD) seperti Konstruksi WF gitu, kalau pengerjaan bangunan seperti ini paling seadanya saja,” ucapnya.

Sementara Ai Rohayati selaku istri Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) mengatakan,” Jatuhnya disini, pada saat bekerja dia kurang enak badan dan ada permasalahan dirumah tangga dengan istrinya jadi dia melamun. Padahal sudah diingatkan untuk tidak naik sama suami saya, tapi dia tetap bekerja diatas dan ikut naik,” tuturnya.

Dari hasil konfirmasi dengan Ai Rohayati, selain mendapatkan sedikit penjelasan jatuhnya pekerja bangunan masjid, Ai Rohayati juga menambahkan bahwa masjid itu dibangun untuk pengajian, sholat Jum’at dan Madrasah.

Bersebelahan dengan Masjid tersebut kediaman Ketua RW 06, ketika ditemui oleh wartawan Saktimedianews.id guna mendapatkan informasi lebih lengkap, Ketua RW 06 Ceceng Lesmana mengatakan.

“Untuk menjelaskan secara kronologis, saya tidak tahu ya, karena tidak ada laporan, saya hanya baru mengetahui dari Grup dan pak RT nya pun sebagai kakak korban belum menjelaskan secara rinci kronologi kejadian tersebut, waktu kejadiannya jam berapa dan korban bisa sampai jatuh kenapa?, saya hanya mengetahui informasinya dari Grup ronda saja. Barusan saya hubungi ke kakak korban, katanya korban sekarang di Ciburuy lagi diurut,” ungkapnya.

Ketua RW 06 dan Ketua RT 04 Bunisari Kulon Desa Gadobangkong Kecamatan Ngamprah Kabupaten Bandung Barat

Berdasarkan informasi yang didapat, keluarga ketua RW 06 Ceceng Lesmana ternyata masih ada ikatan persaudaraan dengan keluarga Ketua DKM Masjid Al-Bayyinah.

Terkait perizinan pembangunan masjid, wartawan Saktimedianews.id juga mengkonfirmasi pihak RW guna mengetahui status perizinan masjid tersebut, Ceceng mengungkapkan.

“Nggak tau saya, selama saya jabat menjadi pengurus RW, nggak tau mengenai perizinan itu sebelumnya ke siapa?, Kalau sama saya tidak ada, terus terang. Dan ditambah lagi tidak ada bahasa-bahasa sekecil apapun kesaya, dulu waktu pembangunan masjid ada bahasa tidak akan di PERSIS kan,” ungkapnya.

“Intinya tidak ada bahasa ke keluarga, saudara dan ke pengurus, bahwa akan ada peningkatan masjid, misal perlu saksi untuk didatangi, bisa saya, karena inikan tanah wakaf dari kakek saya. Selain itu dalam renovasi pembangunan masjid kabel internet rumah saya juga putus gara-gara pembangunan itu, tapi dia cuek-cuek saja, sampai saya kena cash dan sesudah bekerja terkadang para pekerja tidak dibersihkan dulu bekas sisa pembangunan kalau tidak disuruh,” keluhnya.

Ceceng juga menambahkan,” Selain kerusakan, ada masalah terpasangnya tiang didepan masjid, sampai saya telusuri ke Telkom, ternyata bukan tiang Telkom, saya telusuri ke PLN, bukan tiang PLN, sedangkan dari pihak Telkom, PLN tidak mengakui dan Bina marga, bahwa tiang ini harus dicabut. Malahan yang masang juga itu diluar telkom, kata orang telkom juga harus dicabut, sedangkan dia pura-pura tidak tahu,” katanya.

Menurut Ceceng Lesmana, pihak masjid mengetahui dan menyaksikan langsung dalam pemasangan tiang tersebut. Sebelumnya Ceceng pernah menegur salah satu pekerja pemasang tiang, pekerja pemasang tiang pun segera cepat meninggalkan lokasi pemasangan tiang tersebut, karena mengetahui bahwa Ceceng adalah seorang RW setempat.

Ceceng pun berharap, kedepannya pihak masjid dalam renovasi pembangunan harus menyelesaikan perizinan terlebih dahulu.

Dan dia pun menegaskan, “Untuk keselamatan, pertama wajib septi, kedua jangan sampai ada kecerobohan, berdo’alah untuk keselamatan dan kelancaran. Saran dari saya, supaya tidak terjadi lagi, persiapkan diri sebelum bekerja, perlengkapan kita, keselamatan kita, pada pekerjaan bagian atas,” ujarnya.

Guna mendapatkan informasi yang adil dan berimbang, wartawan Saktimedianews.id juga mengkonfirmasi Ketua DKM Masjid Al-Bayyinah Iyang Obai Sobari dikediamannya, dia mengatakan. “Saya selaku penanggung jawab dimasjid dan selaku DKM juga, sekarang ada musibah kecelakaan bekerja, siapa yang mau celaka? Saya bersedia bertanggung jawab sepenuhnya, keluarganya ditanggung sama saya dan si korban sudah diambil sama saya ke tukang urut serta ditawarkan kerumah sakit, intinya 100% saya bertanggung jawab,” ungkapnya.

Korban bersama, pihak masjid Al-Bayyinah

Lantaran Iyang mengetahui bahwa korban ST sedang ada masalah keluarga. Sebelumnya Iyang juga sudah memberikan peringatan kepada korban ST agar tidak naik dan bekerja pada bagian lantai atas masjid yang sedang dikerjakan, namun korban ST tetap naik ke atas, hingga akhirnya yang dikhawatirkan terjadi.

Disinggung mengenai perizinan, Iyang mengatakan. “Perizinan sekarang lagi diproses, tapi kan sekarang lagi diurus,” tuturnya.

Setelah mendapatkan jawaban konfirmasi dari Iyang selaku DKM Masjid Al-Bayyinah terkait perizinan, wartawan memberikan pemahaman kepada Iyang, seharusnya pembangunan itu tidak boleh dilakukan sebelum perizinan itu keluar. Dan Iyang pun mengatakan. “Iya, saya ngerti, saya jawab dan di Kecamatan juga saya diwawancara soal surat izin,” ujarnya.

” Pak, ini masjid!, tapi kan disamping masjid ada yang membuat rumah lantai tiga, coba lihat arsipnya, ada izin tidak ? dalam penjelasannya,” Tidak ada “. pungkasnya.

Menurut Iyang pembangunan rumah lantai tiga, sebelah Masjid Al-Bayyinah juga belum mempunyai perizinan sampai rumah itu sudah jadi. Dalam komentarnya kembali, Iyang pun mengeluh pada saat pembangunan rumah tersebut, bahwa pihak masjid sempat terganggu pada saat orang sedang sholat, akan tetapi pihak masjid diam saja, walaupun mereka terganggu dalam beribadah.

Selain itu wartawan juga mengkonfirmasi terkait tiang yang berada didepan masjid tersebut guna mendapatkan informasi yang berimbang, Iyang pun menjelaskan, bahwa yang pasang tiang tersebut bukan dari pihaknya. Dia pun tidak mengetahui mengenai tiang tersebut dipasang oleh siapa.

Kemudian penjelasan selanjutnya kepada wartawan, Iyang mengatakan. ” Yang masang itukan pihak telepon, kan masangnya cuma nancep gitu. Naahh.. Si pemasang tiang tersebut ke pekerja masjid bilang, pak minta tolong, tolong dikasih aduk, memang saya khawatir kalau tumbang,” ucapnya.

Lanjut Iyang, “Eehh.. Tau-tau RW datang ke PLN melaporkan masjid memasang tiang listrik tanpa koordinasi. Mengenai hal ini, saya mengetahui dari pegawai PLN, katanya RW protes masjid masang tiang telepon, kalau laporan ke PLN, saya bisa terima karena ada pembangunan masjid jadi minta dipindahkan,” paparnya.

Ketika dikonfirmasi terkait perizinan kembali oleh wartawan, Iyang Obai Sobari mengatakan. “Kenapa masjid terus ditanyakan perizinan, sedangkan yang membuat rumah sampai lantai tiga dibiarkan ? Inikan berorganisasi jadi nggak sama saya semua, ada bagian-bagiannya. Mungkin nanti yang menemui wartawan bukan saya sendiri, ada lagi yang diwawancara nanti,” imbuhnya.

“Saya mah hanya bertanggung jawab kepada orang yang bekerja disini, buktinya begitu ada kecelakaan saya kan cepat tanggap. Kalau saya diam itu dosa, jangankan manusia, kucing juga terlindas ditolong sama saya,” ucap Iyang sambil tertawa.

Dikonfirmasi oleh wartawan terkait putusnya kabel internet, Iyang mengatakan. “Sebelum saya membangun masjid itu, saya sudah ke telkom untuk koordinasi bilamana putus kabel tersebut bagaimana dan itu sudah beberapa kali. Kalau memang kabel telkom putus yang menuntut itu telkom bukan warga, jadi kalau kabel wifi itu putus, masa saya yang harus tanggung jawab,” ucapnya.

Ditempat terpisah, dirumah korban ST, Carna selaku Ketua RT 04 ketika dikonfirmasi oleh wartawan, dia mengatakan. “Kalau pihak masjid bertanggung jawab, tapi jika tidak bertanggung jawab saya mau melaporkan. Saya minta do’anya, semoga korban cepat sembuh,” tuturnya.

Ditempat yang sama, Istri korban ST, Wiwin mengatakan. “Pihak masjid mau bertanggung jawab sepenuhnya untuk pengobatan suami saya sampai sembuh dan dijamin semuanya. Harapan saya, semoga suami saya lekas sembuh,” tutupnya.

Jurnalis : Drivana-KBB
Editor : ask

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed