oleh

Ritual Mencuci Kaki Orang Tua Menurut Syariat Islam

-Bandung Raya-16.007 views

Kab. Bandung, Saktimedianews.id-
Minggu (3/1/2021), Di masyarakat kita sering mendengar tentang ritual mencuci kaki orang tua, menciumnya bahkan sampai meminum air kakinya, lalu apakah sebenarnya hal ini termasuk amal sholeh menurut syariat agama?

Setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang diniatkannya, Rosulullah SAW bersabda “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkan, siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rosulnya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rosulnya, siapa yang hijrahnya mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia dituju” (HR Bukhori dan Muslim).

Mencium dan membasuh kaki ibu jika niatnya untuk menunjukan kasih sayang kepadanya, sebenarnya tidak jadi masalah. Namun apabila mencium kaki ibu untuk mengagung-agungkannya, menyembahnya bahkan melebihkannya dari apapun tentu tidak dibenarkan.

Memang tidak ada ayat ataupun hadits yang menganjurkan seorang muslim untuk berbakti kepada orangtua dengan cara seperti itu, tapi sejauh ini praktek cara seperti itu lebih dimaksudkan sebagai ekpresi menghormati seorang ibu atas pengorbanannya yang begitu besar terhadap anak-anaknya.

Perkara mencium kaki pernah terjadi dimasa Rosulallah SAW, ” dari Safwan Bin Asal bahwa ada dua orang yahudi bertanya kepada Rosulallah tentang tujuh ayat yang pernah diturunkan kepada Musa Alaihi Salam, setelah dijawab mereka mencium tangan dan kaki Rosulallah, lalu mereka berkata, kami bersaksi bahwasannya engkau adalah Nabi” (HR Thirmidzy).

Beberapa ulama berpendapat bahwa mencium tangan dan kaki itu, khusus untuk Nabi SAW saja, namun ulama kontepoler mengatakan boleh mencium tangan dan kaki orang tua maupun orang yang kedudukannya mulia dan berilmu, jika niatnya untuk menghormati serta tidak berlebihan.

Banyak orang yang menganggap, ungkapan surga ada di kaki ibu, sehingga kaki ibu harus dicuci, dibersihkan sebagai bagian dari bakti kepada orang tua, apalagi jika sesudah mencuci kaki seorang ibu lalu meminum airnya tentu itu termasuk yang berlebihan, dalam hadist dari umawiyah bin jaimah asulami disebutkan bahwa jahimah datang kepada Rosulallah SAW dan berkata” Wahai Rosulallah saya ingin berjihad, saya datang kepadamu untuk meminta pertimbangan, Rosulallah menjawab” apakah kamu mempunyai seorang ibu” dia menjawab “Ya” Rosulallah bersabda” Tetap berbaktilah kepadanya, karena surga ada di kedua kakinya” (HR. Ahmnad dan Nasa’i).

Ulama mengatakan jika kita ingin menjadi manusia yang tergolong masuk ke dalam surganya Allah, maka seyoganya kita harus mendapatkan ridho dari seorang ibu, merendahkan diri dihadapan ibu dan jangan sampai kita menyakiti hatinya, karena ridho Allah adalah ridho ibu kita, kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah memang benar adanya. Seorang ibu akan berbuat apaun dalam mengasihi anakanya, sementara kasih anak terhadap ibunnya belum tentu seperti itu.

Seorang anak hampir tidak mungkin membalas budi baik orang tuanya, Allah SWT memberikan selyas-luasnya kepada seorang muslim untuk membuka pintu surganya. Sampai-sampai Nabi SAW bersabda” Celaka, celaka, celaka” ada yang bertanya” Siapa wahai rosulallah” beliau menjawab” orang yang mendapat dari salah satu atau orang tuanya telah berusia lanjut tetapi tidak membuatnya masuk kedalam surga” (HR Muslim).

Bakti seorang anak terhadap orangtuanya senantiasa menjadi utang manusia selama roh masih dalam jasadnya, selama jantung masih berdetak, selama nadi masih berdenyut, dan selam napas masih merembus.

Oleh karena itu sangat keliru jika ada orang yang beranggapan bahwa baktinya telah usai ketika orangtuanya telah wafat, bakti seorang anak kepada orang tua senatiasa jadi hutang yang harus ditunaikan sampai ia bertemu dengan Allah SWT, orang yang telah meninggal sangat membutuhkan doa yang tulus serta permohonan ampun dari anaknya sehingga mereka mendapatkan limpahan rahmat dan ampunan dari Allah karenanya, ” Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba yang soleh disurga” Lantas ia bertanya wahai Rabb, mengapa aku mendapatkan ini, Allah menjawab karena permohonan ampun anakmu untukmu” (HR Ahmad).

(Jurnalis : Hamdan Editor).
Sumber : Khazasanah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed