oleh

Keluhan Guru Honorer: Sebegitu Sulitkah Lulus Sertifikasi?

Cimahi, Saktimedianews.id,-
Kamis. 18 Februari 2021. Ada beberapa orang yang bisa dengan gampang lulus ketika menempuh ujian sertifikasi, tapi ada juga yang harus berkali-kali dengan akhir yang tidak menggembirakan juga.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru dan dosen wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Undang-Undang ini bisa menjadi perlindungan hukum untuk guru dan dosen tanpa adanya perlakuan yang berbeda antara guru negeri dan swasta.

Undang-Undang Guru dan Dosen secara tegas mengatur dengan detail aspek-aspek yang selama ini belum diatur secara rinci, misalnya kedudukan, fungsi dan tujuan dari guru, hak dan kewajiban guru, kompetensi dan lain-lain.

Namun pada kenyataannya jangankan untuk mendapatkan kesetaraan antara guru swasta dan guru negeri, karena mendapatkan kelulusan sertifikasi itu tidak bisa dengan mudah terjadi. Ada memang yang hanya sekali ujian langsung lulus, banyak juga yang sampai tiga kali mengikuti ujian tetap tidak lulus, seperti yang terjadi pada seorang guru SMK swasta di daerah Cimahi yang sudah tiga kali mengikuti tes dan tidak lulus.

Ditemui oleh Sakti Media, hari Kamis, 18/2 2021, Suryani (bukan nama sebenarnya) mengutarakan kegundahannya.

“Saya sudah jadi guru selama kurang lebih 16 tahun, penantian panjang untuk menjadi guru negeri saya lalui dengan sabar. Saya juga sudah 3 kali ikut ujian untuk dapat sertifikasi, sayangnya saya baru saja dapat keterangan bahwa saya tidak lulus. Sedih iyaaa, rasanya saya bisa mengisi soal-soal yang diujikan, tapi entahlah…,” keluh Suryani.

Bagi Suryani kelulusan itu sangat berarti, mengingat dia memiliki beban tanggungan yang mungkin lebih banyak dari orang lain. Sementara gaji dia yang hanya honor dari sejumlah jam mengajar sangat tidak mencukupi.

Mungkin juga keluhan serupa bukan hanya keluar dari mulut Suryani, pasti ada yang bernasib sama dengannya. Dan barangkali harapan mereka sama, menginginkan kesetaraan dalam mendapatkan hak dan kewajiban.

Undang-Undang Guru dan Dosen No.14 Tahun 2005 menyebutkan bahwa Hak Guru dan Dosen antara lain:

  1. Memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;
  2. Mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;
  3. Memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual;
  4. Memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi;
  5. Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan;
  6. Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas;
  7. Memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi;
  8. Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi; dan/atau
  9. Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.

Tugas pemerintah yang diharapkan bisa menjamin kesetaraan antara huru dan dosen swasta dengan negeri.

Karena memang pemerintah harus bisa memhuat solusi untuk meminimalisasi kesenjangan ini. (Rostiane LN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed