oleh

Kepala Desa Ciburuy Rencanakan Inovasi Digital untuk Kebangkitan Desa

Bandung Barat, saktimedianews.id, – Kepala Desa Ciburuy terpilih Firman Firmansyah S.Pdi tekankan inovasi digital untuk kebangkitan desa dalam mengoptimasi pelayanan desa masa kini di 100 hari kerjanya, Selasa (04/01/22).

Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang desa memberikan pengakuan asal usul desa (rekognisi) dan penghormatan atas desa, yang menjamin eksistensi, melestarikan warisan budaya, terwujudnya kesejahteraan warga, memajukan perekonomian serta memperkuat desa sebagai subjek pembangunan.

Dengan menekankan inovasi teknologi, sebagai bagian upaya desa-desa menyambut tantangan dan mengambil bagian revolusi digital di Indonesia. Ini, dapat mereplikasi keberhasilan yang salah satunya dipicu kebijakan pembangunan desa dengan gerakan era digital masa kini.

Relevansi Desa Cerdas setidaknya didasari oleh; pertama, permasalahan dasar digitalisasi sebagian besar berada di desa. Oleh karenanya, menyelesaikan permasalahan dasar digitalisasi di desa berkontribusi besar terhadap kesiapan kita menyongsong era digital; kedua, desa digital adalah salah satu upaya guna mengubah imaji tentang desa sebagai “tertinggal” menjadi pusat inovasi dan kemajuan.

“Dalam 100 hari kerja ini saya merancang yang disebut sebagai desa digitalisasi, konsep digital ini akan diterapkan dengan salah satu aplikasi untuk pelayanan yang prima dan optimal untuk masyarakat, yaitu aplikasi Simple Desa”, ujar Kepala Desa Ciburuy Firman Firmansyah dalam keterangan persnya.

Menurutnya, pandemi Covid-19 memaksa masyarakat Indonesia untuk lebih intens mengakses perangkat digital. Ini juga yang membuka tabir ketimpangan akses teknologi ketika Indonesia berambisi menyongsong revolusi digital.

“Setiap unsur masyarakat baik yang terorganisir memiliki peran yang sama dalam membangun desa ke arah era digitalisasi masa kini guna sebagai sarana sosial melainkan sebagai sarana membangun desa”, jawab firman.

Bedasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut bahwa pada tahun 2019, lebih dari 50% penduduk perkotaan telah mengakses internet. Sementara dari desa hanya 30% yang bisa mengakses internet. Di sisi lain, lebih dari 64% desa di wilayah kabupaten belum memiliki menara pemancar dan penerima sinyal atau yang lebih dikenal sebagai BTS (Base Transceiver Station).

Sehingga hal tersebut tentu menjadi pekerjaan rumah bersama ditengah gegap gempita era digital. Bagaimana warga desa dapat pelayanan desa dari rumah, jika infrastruktur pendukungnya tidak terpenuhi. Ketersediaan internet dan infrastruktur dasar digital merupakan prasyarat dalam menyongsong era revolusi digital.

“Semoga aplikasi ini betul-betul berjalan sesuai misi kami sebagai kepala desa memberikan pelayanan terhadap warga desa ciburuy”, pungkas firman.

Langkah digitalisasi ini akan membuka peluang ekonomi lebih besar, pelayanan publik yang lebih efisien, perencanaan pembangunan berdasarkan data dan kebutuhan, pelaksanaan kebijakan yang tepat sasaran, serta akuntabilitas penyelenggaraan pemerintah desa yang lebih transparan.

Kendati demikian firman menambahkan “Tidak cukup di tingkat perangkat desa, namun Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) hingga RT RW pun memiliki tupoksi yang sama sebagai kepanjangan tangan pemerintah agar terealisasinya Desa Cerdas dalam era inovasi digital”, tegas firman.***(Heryana).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.