oleh

Obrolan Exclusif Dengan Guru SLB Sabilulungan

Kab. Bandung, Saktimedianews.id,-
Sabtu, 09 Januari 2021. Tepat pukul 10.00 Wib, team jurnalis tiba di Sekolah SLB Sabilulungan, seraya membuka pembicaraan dan melihat dari salah satu contoh figur guru,

Ibu Lyna menjelaskan kepada jurnalis, “Sebagai contoh ada anak SBK, seorang anak Yang Tuna grahita dikawinkan dengan anak Tuna grahita, orang tuanya adalah seorang tukang delman di Gang Awug, yang mana orang tuanya telah berpisah cukup lama,” tuturnya.

“Dari semenjak kecil sudah di tinggalkan kedua orang tuanya dan tidak di urus, seolah anak tersebut adalah anak yatim,” tuturnya.

“Ada mah ada orang tuanya anak ini, tapi tidak mau ngurus,” imbuhnya.

“Anak tersebut tinggal dengan neneknya cuman oleh kami khususnya (Sekolah SLB) di berdayakan untuk membersihkan sekolah,” paparnya.

Kemudian jurnalis menanyakan kepada ibu Lyna apakah selama mengajar anak-anak yang berkebutuhan khusus susah gak dalam mengajarnya?.

“Kesulitan itu ada dan kita tidak bisa langsung beradaptasi,” tuturnya.

Ibu Lyna menjelaskan bahwa mengajar anak yang berkebutuhan khusus itu tidak seperti mengajar anak yang normal, kalau anak yang normal kan dalam pengajarannya langsung dan bisa mengikuti anak tersebut, tapi kalau anak yang berkebutuhan khusus (SLB) itu kan beda-beda.

“Ada yang seperti ini (misal tuna rungu) dan materi pelajaran pun individual,” paparnya.

“Sebagai contoh ada anak yang tuna wicara, akan tetapi orang tua memaksakan sekolah anak tersebut di sekolah umum, ternyata hal yang harus kita jelaskan,” tutur ibu Lyna.

Kita harus melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan orang tuanya, terus kita kasih saran kasih pendapat bahwasanya anak itupun kan membutuhkan pelajaran di sekolah.

“Intinya orang tuanya kasih pengertian, karena sesungguhnya kita juga tidak mau mempunyai anak seperti itu kita khususnya sebagai orang tua menginginkan anak yang normal-normal saja kalau dari Allah sudah di takdirkan Seperri itu, kita sebagai orang tua harus bisa menerima,” tuturnya kepada jurnalis.

Bahwa anaknya mempunyai kekurangan, setelah di tanya ibu guru mempertanyakan anak tersebut sekolah dimana, sontak jurnalis menjawab di SD C.

“Sebaiknya orang tuanya sadar langsung menyekolahkan anak yang sama supaya sosialisasinya bagus, kalau di masukan kesekolah umum efeknya anak tersebut akan minder kecuali kalau anak tersebut sekolahnya di sekolah exclusif,” tutur ibu guru.

“Kita selalu memberikan arahan kalau ada orang tua yang ngotot tidak menerima bahwa anaknya di sebut anak yang berkepentingan khusus, artinya orang tua anak tersebut tidak sadar kadang menjawab kenapa anak kami kan keadaannya normal (Alasannya), kalau normal dari segi apanya,” tutur pak Andang.

Kalau dalam segi Fisik anak tersebut belum bisa mencapai wawasan yang luas dunia pendidikan sama saya selaku kepala sekolah SLB Sabilulungan di jelaskan mulai dari A sampai Z, bahwa anak yang berkebutuhan khusus itu termasuk presiden kita BJ. Habibie.

Presiden kita BJ. Habibie kalau kita terangkan bahwa dia sebagai orang yang berkebutuhan khusus pasti tidak akan menerima,” tutur pak Andang.

Setelah di jelaskan baru tahu dan menerima orang tua anaknya bahwa anaknya normal iya, akan tetapi dalam beritelegensi kurang, buktinya apa?

Buktinya anak ibu di daftarkan di sekolah manapun semua sekolah sudah pada nolak, sekolah sekolah tidak sanggup dan berulang kali tidak naik-naik.

Setelah di klarifikasi bahwa anak tersebut tidak bisa bicara ternyata masuk kategori B, sedangkan tuna rungu menjelaskan bahwasanya anak tersebut biasanya dalam pemikirannya adalah normal akan tetapi susahnya dalam bicara dan di terangkan pula pendengaranpun sedikit cuman dalam bicara tidak jelas.

Kalau di sekolahkan di SLB kemungkinan anak tersebut bisa di therapy dengan di latih bicara.

“Ibu guru pun menjelaskan bahwasanya mengajar di SLB sudah 32 Tahun kepada jurnalis dan Kepala Sekolah pun bilang bahwa ibu Lyna lebih senior dari pada saya,” tuturnya.

Ibu Lyna veren,S.pd menjelaskan, “Di angkat menjadi PNS pada tahun 1988, kurang lebih 5 Tahun lagi saya akan pensiun dan Alhamdulilah bisa membantu pada anak-anak berkebutuhan khusus seraya menutupi pembicaraannya,” tutupnya.

Jurnalis : Rosari hayati – Teddy MT
Narasumber : Ibu Lyna veren ,S.pd (Guru SLB dan Bapak kepala sekolah SLB Sabilulungan) H. Andang Jumhawan, S.pd

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed