oleh

Kalau Bukan Anaknya Siapa Lagi yang Merawat Orang Tua sakit ? 

KBB, Saktimedianews.id,-
Merawat orang tua sakit merupakan tantangan besar bagi seorang anak sebagai bentuk pengabdian. Semua anak pasti berharap ingin menjadi anak yang sukses mengharumkan nama baik orang tua, mengakat harkat martabat orang tua, namun ketika anak sedang berjuang mengapai karirnya terkena ujian orang tua, ibu meningal dan ayah sedang sakit.

Yang jadi catatan dalam tulisan opini Sakti Media News  ini bukan saja tentang kesabaran sebagai anak namun menghadapi kenyataan serta kekuatan ayah sudah 1 minggu menghadapi sakit. Setiap malam tidak bisa tidur, pagi, sore dan siang ayah selalu ngigo, yang mendampingi nemenin ayah hanya anak ke 4 nya.

“Alhamdulillah ihklas Allah SWT percaya kepada saya yang harus mendampingi ayah saya dengan kondisinya sekarang ini, saya bersyukur bisa memandikan ayah saya, bisa mencebokan ayah saya,nyuapin ayah saya, setiap hari dengan kondisi ayah saya tak bisa apa-apa, saya selalu ada di sisi ayah saya, tidak ada yang aplusan, kaka-kaka saya, saudara saya hanya bilang gak bisa urus bapak karena faktor nya mempunyai kewajiban rumah tangga, saya hanya sendiri namun saya terasa ringan dan tidak terasa di bebankan, masalah aktivitas rutinitas saya terbengkalai biarkan saja rezeki tak akan kemana,”ungkap anak ke 4 dari 5 bersodara.

Ada kalanya tak dipungkiri kelelahan, kejengkelan atau bahkan sedih menghinggapi, namun pada akhirnya saya “berhasil” merawat dalam kebahagian. Ada sebuah kepuasan batin ketika ada orang yang menjenguk yang mengatakan ayah sangat terawat. Kebersihan tubuh ayah, obat yang selalu tersedia dan keberadaan anak disampingnya meskipun yang mendampingi nya hanya saya sendiri anak ke 4.

Saya sempat menangis membaca buku “Satu Tiket Ke Surga”. Di salah satu cerita tentang seseorang yang sedih karena tidak dapat masuk ke sebuah pemandian karena tiketnya habis. Namun sahabatnya mengingatkan mengapa untuk urusan dunia saja menangis sedangkan untuk urusan yang kekal yaitu surga malah tak diperhatikan. Maka temannya pun menanyakan urusan apakah itu? Jawabannya adalah orang tua. Sungguh sebuah keberuntungan ketika anak dalam hidupnya masih dipertemukan dengan orang tua. Apalagi jika orang tua itu sakit. Tentu merawatnya dengan baik bisa jadi merupakan tiket surga yang disediakan olehNya untuk anaknya.

Apa perbedaan orang yang masih waras dengan orang gila?. Jawabannya cukup sederhana yaitu orang waras masih punya masalah dalam hidupnya untuk dihadapi dan diselesaikannya. Sedangkan orang gila tidak lagi memikirkan masalah dirinya. Mungkin dalam kehidupan seseorang diberi harta yang cukup, keluarga yang harmonis namun disisi lain orang tua sakit. Disitulah sebenarnya ujian orang tersebut untuk mampu melewati dengan merawat orang tua yang sakit dengan melakukan yang terbaik.

Kalau bukan anaknya siapa lagi? Kalau dalam perjalanan merawat orang tua sakit ada kejenuhan maka tanyakan kepada diri sendiri, kalau bukan anaknya siapa lagi yang merawat orang tua sakit?. Jika seseorang memiliki harta berlimpah tentu bisa menyewa seorang perawat yang khusus merawat orang tua yang sakit. Namun tak dipungkiri, kehadiran anaknya yang mendampingi Langsung turun tangan merawat orang tua sudah suatu ketenangan batin bagi orang tua,sudah saatnya membalas Budi meskipun jasa orang tua tidak bisa di bayar oleh apapun.

Segala sesuatu merupakan pelajaran hidup jika seseorang mampu mengambil hikmahnya. Begitupun dengan merawat orang tua sakit. Setidaknya dengan merawat orang tua sakit menunjukkan bakti dan cinta kita kepada orang tua. Merawat orang tua sakit kita jadi belajar ekstra kesabaran baik terhadap yang sakit dengan segala keluhannya dan menangani , belajar mengontrol emosi dan tentunya belajar untuk melakukan sesuatu dengan ikhlas. Tanpa imbalan materi tapi hanya upaya mendapatkan sebuah kebaikan disisi-Nya.

Jurnalis : Siti Junengsih

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed