oleh

An-Nissa Imadul Bilad

-Otomotif-715 views

Kab. Bandung, Saktimedianews.id,-
Jum’at, 23 April 2021. An-nisaa imadul bilad, Faman aqomaha faqu Annisa’ ‘imadul bilad, idza sholuhat sholuhal bilad wa idza fasadat fasadal bilad. Khoirul bilad khoiruhu nisa,wa afsadul bilad afsaduhu nisa.

(Wanita adalah tiang negara,apabila wanitanya baik maka negara akan baik dan apabila wanita rusak maka negarapun akan ikut rusak. Baiknya negara karena baiknya wanita dan rusaknya negara karena rusaknya wanita).

Hadist tersebut sangat berkorelasi dengan hadist Nabi yang lain. “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Nabi menjawab, “Ibumu!” Orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Nabi menjawab, “Ibumu!” Orang itu bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Nabi menjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari-Muslim).

Rasulullah SAW. bersabda, “Jihadul mar’ati baitiha; jihadnya wanita adalah di dalam rumahtangganya.”
Annisau imadul bilad
Perempuan itu tiangnya negara
In soluhat soluhat bilad
Perempuannya bagus negaranya bagus, keluarganya kuat
Wain fasadat fasadal bilad
Jika wanitanya rusak, keluarganya pun hancur

PERHIASAN DUNIA ADALAH WANITA SOLEHAH
Wanita adalah tiang Negara. Bila wanitanya sholihah (baik), maka akan baik pulalah Negara. Namun sebaliknya, jika wanitanya rusak maka akan rusak pula Negara.

Wanita adalah “tiang”
Dalam sebuah hadist Rosulullah saw menyatakan bahwa “Wanita adalah tiang negara, jika baik wanitanya maka baiklah negaranya dan jika rusak wanitanya maka rusak pula negaranya”.

Umar Bin Khattab : Suatu Negeri akan Hancur Jika Para Penghianat Jadi Petinggi, dan Harta dikuasai Orang-orang Fasik
Wanita adalah tiang negara, jika baik wanita- wanita di suatu negara maka insyaallah tegaklah negara itu, dan jika buruk perangai wanita di suatu negara, hancurlah negara itu.

Jika Baik Wanita – Wanita Didalam Rumah Tangga, Maka Baik Rumah Tangganya
Jika BuruK Wanita Dalam Rumah Tangga Maka Hancur Rumah Tangganya.
Disadari atau tidak, orang-orang hebat di seluruh dunia tidak lepas dari peranan wanita yang setia di sampingnya. Hebatnya seorang presiden dalam mengatur negara, tidak lepas dari peranan ibu presiden yang hebat pula.

Hebatnya seorang kyai dalam menyampaikan risalah keislaman pun tidak lepas dari seorang nyai yang setia mendampingi penuh keikhlasan dan bahkan seorang Nabi Muhamad pun tidak lepas dari seorang Siti khodijah yang rela berkorban dan setia menjaga kesetiaan dan menjaga hati mereka tetap lurus di jalan Allah.

Dunia laksana gula madu, dimana lebah dan lalat banyak yang terjerat dan tidak dapat terbang melepaskan diri darinya, karena mereka tidak berhati hati dan serakah dengan manisnya gula madu itu. Sementara mereka yang berhati-hati, dapat terbang setelah hinggap diatasnya, mencari secercah harapan madu bagi kehidupan dan kesehatannya.

HR. Bukhori dan HR. Muslim biasa dengan sebutan KUTUBUSSITTAH atau biasa disebut kumpulan 6 Kitab (HR. Bukhori, HR. Muslim, HR.Tirmidzi, HR. Abi Daud, HR. Ibnu mazah, HR. Nasa’i)

Dunia adalah perhiasan, dimana manusia silau memperebutkan perhiasan untuk tampil glamour, mewah, menikmati dunia. Dunia sesak dengan gentayangannya wanita-wanita yang tidak baik, laksana belukar yang melilit mangsanya yang datang dan tidak berhati-hati.

Setan menjadi perekat mata lelaki dan perempuan jalang. Oleh karena itu Rasul mengungkapkan sebuah teori :
Sesungguhnya dunia itu perhiasan. Tidak ada satupun dari perhiasan dunia yang lebih utama dibandingkan dengan wanita sholihah.

Pepatah bijak mengatakan:
“Alummu madrasatul ula, idza a’dadtah a’dadta sya’ban thayyibal aghraq;
ibu adalah sekolah pertama dan utama; jika dipersiapkan dengan baik akan mampu melahirkan generasi-generasi yang baik pula).”

Dalam sebuah hadist dijelaskan “Seorang wanita pernah mendatangi Aisyah as.” salah seorang istri Rosul, dan bertanya: kenapa kami kaum wanita tidak di perintah dan diikutkan dalam berperang (berjihad) sedangakan kamipun ingin syahid? sambil tersnyum saidah ‘Aisya menjawab; “jihadnya kamu (kaum wanita) dirumah kalian sendiri”.
“tiang” disini, tiang disini berarti hanya sebuah penyangga dan pembantu berdirinya sebuah bangunan, bukan inti dari bangunan tersebut.

Artinya: Wanita boleh-boleh saja berkarya dan berjuang untuk negara tapi bukan harus menjadi pemimpin, karena Ia hanyalah sebuah pembantu dan penyangga, sungguh pun demikian peranan dan kehadirannya sangat dibutuhkan dan diperlukan untuk berdirinya sebuah bangunan yang kuat dan kokoh.
Dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Loh Mahfuz).” (QS. Al An’aam:59)

“Tidak suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya(QS. At- Taghaabun: 11)

Jurnalis : Rosari Hayati & Teddy MT
Sumber : Kutipan dari HR. Bukhari dan HR.Muslim serta Al-Qur’an ( QS. Al-An’aam : 59, dan QS. At- Taghaabun: 11)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed